Selasa, 27 September 2016

Plagiarisme: kejujuran akademik

"Aku gak suka dibohongi. Mending dia bicara jujur walaupun menyakitkan daripada berbohong ke aku." 

Rasanya, kalimat ini tidak asing di telinga kita, bukan? Mungkin juga, kita pernah memakai kalimat itu dalam pergaulan sehari-hari. Siapa sih yang suka dibohongi?

Suatu kali, perpustakaan tempat saya bekerja dikunjungi oleh seorang pustakawati dari yayasan bernama Ibu Sherryl Taylor. Beberapa kali, Ibu ini menanyakan apakah ada website yang bisa direkomendasikan secara akademik dari perpustakaan kepada pengguna perpustakaan. Sayangnya, informasi yang pernah saya dapat hanya tersimpan di komputer saya saja.

Menarik ketika saya kepo-in situs beliau tentang Plagiarism. Sebetulnya, topik ini bukanlah hal yang baru buat saya, apalagi pernah ada seorang akademisi yang ketahuan 'mencuri' ide untuk bahan penulisan S3-nya. Kalau seorang profesor yang melakukannya, tentunya dengan sengaja alias sudah tahu melanggar tetapi pura-pura tidak tahu.

Saya pernah juga mendengar bahwa plagiarisme merupakan dosa di dunia akademik. Kalau berdosa, maka hukumannya neraka. Apakah hukuman 'neraka' buat pelaku plagiarisme? Dikeluarkan dari civitas akademika, secara tidak hormat. Jadi, plagiarisme tidak termaafkan.

Malu sebenarnya mengakui ini, tetapi saya sendiri kurang paham tentang plagiarisme. Sebelum saya membaca tulisan Ibu Sherryl, saya pikir saya cukup jujur dalam menghasilkan suatu karya tulis.Untungnya, saya yang akan melanjutkan pendidikan ke S2, mendapatkan informasi mendalam tentang plagiarisme sehingga saya tahu rambu-rambu yang perlu dipatuhi dalam penulisan tesis nantinya.

Plagiarisme, menurut saya setelah membaca dan menonton sumber-sumber di atas, merupakan tindakan yang tidak mengindahkan atau mencantumkan pembuat ide yang sebenarnya, dan mengakuinya sebagai ide diri sendiri. Tidak jujur terhadap karya sendiri. Pencurian ide ini bisa bagian kecil atau besar dari karya orang lain.

Pertama-tama, kita perlu tahu membedakan mana ide umum dan khusus. Memang sulit mendapatkan ide asli karena seperti perkataan Raja Salomo, tidak ada yang baru di bawah matahari, sehingga sering kali pembuat karya mencari jalan pintas, mencontoh karya orang lain, mengubahnya sedikit, dan voila, jadilah karya pribadi. Sebetulnya, tidak masalah jika mencontoh karya orang lain, tetapi yang perlu diperhatikan, berikanlah penghargaan kepada penciptanya dengan membuat citation atau kutipan. Jika itu ide umum, ya, tidak perlu membuat kutipan tersebut.

Informasi tentang plagiarisme ini perlu disebarluaskan agar membudaya, bukan sekadar informasi yang mati. Kita perlu menghormati karya orang lain jika kita ingin karya kita juga dihormati orang lain. Lebih dari itu, kita bisa menjadi manusia yang jujur secara intelektual dan di kemudian hari, menghasilkan karya yang lebih bermutu dari sekadar copy-paste karya orang lain.






Senin, 27 April 2015

Bongkar Pasang Buku Sastra

Pada 18 April 2015, saya dan seorang teman mengajukan diri untuk mengikuti peluncuran buku yang diadakan oleh Gramedia. Berdasarkan informasi pendahulu yang saya dapatkan melalui surel, buku Bongkar Pasang: Negeri Lima Menara, yang dikerjakan oleh Lea dan Kiky, merupakan buku yang akan membantu siapapun untuk mengerti karya sastra.

Sudah menjadi rahasia umum, sastra Indonesia seperti terjun bebas dan menjadi buku yang sangat jarang dijamah di perpustakaan-perpustakaan. Yang pernah saya saksikan, karya-karya sastra hanya dipinjam jika "dipaksakan" oleh pengajar Bahasa Indonesia. Itu pun banyak murid yang "menyerah" di halaman-halaman awal karena memang menggunakan kosakata beragam serta memuat konten budaya, sejarah, agama yang membuat buku-buku ini semakin "angker". 

Salah seorang narasumber menceritakan bahwa generasi sekarang banyak yang tidak tahu bahwa sebenarnya Indonesia pernah memiliki sejarah "holocoust". Informasi ini justru bisa diketahui langsung dengan membaca salah satu buku karya Ahmad Tohari. Hanya dengan membaca satu karya sastra cukup untuk memberikan informasi Indonesia. Jadi, saya setuju, sayang sekali jika karya sastra Indonesia dibiarkan sendirian bertahan hidup. Generasi muda sekarang ini perlu disadarkan akan pentingnya. Penting sekali, dimulai dari sekolah dan para pendidiknya. 

Sebagai penyuka karya-karya sastra, Lea dan Kiky menyadari kesulitan-kesulitan ini dan berusaha "membantu" dengan membagikan "keterampilan" ini. Dimulai dari rasa iri melihat banyaknya teacher guide yang diterbitkan untuk karya-karya sastra yang berbahasa Inggris, mereka melakukan serangkaian riset untuk membuat teacher guide untuk karya-karya sastra Indonesia. Mereka mulai dengan membedah buku  sastra modern mega best-seller Ahmad Fuadi berjudul "Negeri Lima Menara". 

Mereka meyakinkan bahwa meskipun serupa dengan teacher guide, tetapi siapapun yang peduli dan mau mengajarkan kepada orang lain dapat menggunakan buku ini dengan mudah. Mereka sudah mencobanya di sekolah tempat mereka bekerja dan hasilnya murid-murid berhasil menyelesaikan buku tebal Negeri Lima Menara ini hanya dalam waktu sebulan. 

Mudah-mudahan lewat usaha-usaha serius dari pemerhati karya sastra Indonesia ini, kita terpacu untuk "menyelamatkan hidup" peradaban Indonesia. 

Kamis, 09 Oktober 2014

Fakta Menarik Tentang Perpustakaan

Beginilah fakta menarik tentang perpustakaan yang saya temukan saat membolak-balik halaman diktat kursus perpustakaan dari Bina Pustaka. Semoga bermanfaat dan memberikan semangat bagi rekan pustakawan dalam melakukan tugas di tempat masing-masing. 

1. Perpustakaan berasal dari dua kata yang disatukan :
  • bahasa Indonesia : pustaka (buku), perpustakaan (kumpulan buku)
  • bahasa Romawi (librarium) : liber (buku) dan armarium (lemari)
  • bahasa Yunani (bibliotheke) : biblion (buku) dan theke (lemari)

2. Perpustakaan pertama dimulai sejak abad ke-13 di Sumeria, kota Niniveh. Kota ini terkenal di dalam kisah Nabi Yunus yang diutus Tuhan agar memberitahukan penduduk kota ini untuk bertobat. Rajanya, Asurbanipal menghimpun koleksi perpustakaan ini dari milik keluarga raja yang terbuat dari tanah liat dan dijadikan tablet tanah liat. Mungkin fisiknya mirip gadget tablet jaman sekarang. Informasi di dalamnya ditulis dengan huruf paku.

3. Dalam perkembangannya, perpustakaan juga menyimpan koleksi yang terdiri dari papirus dan perkamen. Perkamen terbuat dari kulit binatang terutama kambing dan sapi. 

4. Berdasarkan Keppres No. 11 tahun 1989, Perpustakaan Nasional Depdikbud kedudukannya ditingkatkan, tidak lagi di bawah Depdikbud tetapi langsung di bawah Presiden RI melalui Sekretariat Negara. 

5. Pustakawan jaman dulu merupakan orang-orang yang berpengetahuan tinggi, harus menguasai lebih dari 2 bahasa dunia. Mereka merupakan filsuf-filsuf terkenal yang didatangkan dari Yunani. 

sumber : Kursus Tertulis Perpustakaan Bina Pustaka Jakarta

Selasa, 26 Agustus 2014

Shadow of His Hand


Saya suka sekali dengan kisah Anita Dittman, seorang Arya (German) - Yahudi, yang mengalami kesukaran hidup pada masa pemerintahan Hitler di Jerman. Ayahnya memilih meninggalkan isteri dan anak-anaknya karena merasa telah membuat keputusan bodoh, menikahi seorang Yahudi. Anita diperlakukan bukan seperti anak kandung sendiri, memilih untuk ikut dengan ibunya, sementara kakaknya, Hella, memilih ikut ayahnya. 

Anita mahir sekali menari balet dan ingin menjadi seorang penari profesional. Saat itu, Hitler menyebarkan kebencian terhadap ras Yahudi, menyebut mereka Judenfratz. Di segala tempat, Anita harus menerima perlakukan buruk orang-orang Jerman yang pro-Nazi tanpa perlawanan apapun. Bahkan ia harus membiasakan diri membaca tanda-tanda, berjalan dengan kepala tertunduk, tidak melakukan kontak mata, berjalan di tempat-tempat berbayang agar tidak dilihat orang lain.
  
Anita berjumpa dengan Kristus saat ia mengunjungi gereja St. Barbara yang dipimpin oleh Pastor Hornig. Pertolongan dan pengorbanan pastor ini memberikan kesaksian nyata tentang kehidupan Kristus bagi Anita dan ibunya. Sejak saat itu, Anita selalu percaya akan perlindungan Tuhan, di bawah Bayang dari tangan-Nya. Ibu dan 3 bibi Anita juga menjadi Kristen yang kuat yang punya cara jitu menghilangkan kemarahan akibat ketidakadilan yang mereka terima dengan kalimat Ini bisa jadi lebih buruk lagi. Jadi, bersyukurlah!

Biarpun iman Anita dan ibunya serta ketiga Tante-nya teguh, penganiayaan tidak menjauh dari mereka. Mereka diharuskan bekerja tanpa bayaran, hanya untuk mendapatkan makanan yang semakin sedikit porsinya. Tiap kali mereka pulang dan mendapati ada surat dari Gestapo, salah satu dari mereka harus ikut dengan tentara SS yang akan menjemput. Anita berpikir, jika mereka semua harus dibunuh, mengapa tidak sekaligus saja mereka dijemput? Cara menjemput satu per satu menjadi cara paling kejam untuk menyiksa keluarga-keluarga Yahudi maupun yang campuran Yahudi. 

Saat paling menyakitkan adalah saat surat Gestapo menyatakan bahwa giliran Hilde Dittman yang dijemput. Hilde meyakinkan Anita bahwa mereka akan bertemu lagi, bahwa Tuhanlah yang membuat semua itu mungkin. Saat itu Pengadilan Nuremberg sudah menerbitkan keputusan agar mereka yang keturunan Jerman, tidak akan disita barang-barangnya. Kenyataannya, putusan itu tidak berlaku di lapangan. 

Dalam kebingungan, Anita tidak kembali ke tempat dia tinggal selama ini melainkan pergi menemui Pastor Hornig. Ia diminta untuk menghubungi ayahnya untuk meminta pertolongan. Anita ragu kalau ayahnya mau menerima panggilan teleponnya. Ternyata, sang ayah senang sekali Anita meminta bantuan darinya. Anita belajar untuk mengampuni ayahnya, tidak mempertahankan gengsi atau kemarahan masa kecilnya. 

Sejak kepergian ibunya, Anita selalu mencari cara untuk mengirimkan roti. Terkadang dia tidak makan, agar ibunya punya makanan lebih banyak. Tindakan itu membuat dirinya kehilangan rambut dan tubuhnya semakin kurus, hanya dia tidak merasa lemah. Itulah pertolongan Tuhan yang lain yang ia rasakan. 

Anita dan beberapa teman Yahudi-Kristen lainnya dijemput oleh Gestapo suatu hari. Para pria diarahkan ke gudang kosong yang tidak jauh dari tempat pemerahan susu, tempat para perempuan dikumpulkan. Mereka diharuskan menggali parit dan menebang pohon untuk pertahanan NAZI terhadap serangan sekutu dan Rusia. Pekerjaan yang berat itu menyebabkan kaki kanan Anita rusak karena keracunan darah. 

Anita dan teman-temannya berencana melarikan diri begitu tahu bahwa Rusia sudah mengalahkan Jerman dan menduduki kota-kota. Beberapa teman laki-laki Anita sudah lebih dahulu meninggalkan dirinya, Anita ditemani oleh Hella, teman yang punya nama mirip dengan kakak Anita. Hella inilah yang kemudian membawa Anita ke rumah sakit, mengobati kakinya. 

Setelah mengalami operasi berkali-kali, juga kejahatan salah satu suster super-Nazi yang berusaha membunuh dirinya, Anita semakin diteguhkan akan perlindungan di bawah bayang tangan-Nya. Bagaimana kelanjutan kisah ini? Apakah Anita bertemu kembali dengan ibunya? Silakan baca sendiri kisahnya dan jangan lupa mengikuti kisah lainnya dalam seri Daughters of Faith. 





The Divine Dance

Buku ini ditujukan untuk para remaja putri dan wanita yang merasakan tekanan yang sama yang dirasakan (dan masih saja dirasakan) oleh si penulis, Shannon Kubiak Primicerio, untuk memberikan pertunjukan di hadapan orang lain. Sepertinya, kita semua memiliki para penggemar dan para pengritik yang memenuhi auditorium dari hidup kita. Kita semua memiliki ruang yang diisi penuh dengan pakaian yang indah dan topeng yang berkilauan yang menjadi tempat persembunyian kita.  Setiap pribadi ingin menjadi seseorang yang istimewa. Namun sayangnya, tidak seorang pun yang merasa seperti itu.

 Namun, tetap saja pertunjukan itu dimulai. Selangkah demi selangkah kita mulai menari sepanjang hidup kita, berharap seseorang akan memperhatikan kerja keras yang kita lakukan dan menghargainya. Kita ingin seseorang memberikan tepukan tangan, menyoraki pertunjukan kita. Kita ingin seseorang memberikan tepukan sambil berdiri dan melemparkan bunga mawar ke kaki kita. Kita ingin menjadi puteri. Dan lebih lagi, kita ingin dicintai.  Sehingga kita terus menari sampai kita kelelahan dan tidak ada lagi yang tersisa.

Shannon berhasil menangkap esensi dari segala sesuatu yang sudah lama dicari-cari para remaja, sebagaimana tanggapan seorang pembaca bernama Robin Jones Gunn. Semuanya ada di dalam buku ini: harapan, kebenaran, koreksi dengan cara yang lemah lembut, dan sorotan yang cerdas ke arah Tuhan, sang Kekasih yang pantang menyerah, yang sudah lama menunggu untuk menari bersama kita.

Buku ini mudah dibaca, menghibur karena ditulis dengan penuh gairah oleh seorang yang lulus dari Universitas Biola, mendapatkan gelar sarjana muda di bidang Jurnalisme dan Studi Alkitab. Shannon juga sering diundang menjadi pembicara pada acara-acara muda-mudi di seluruh negeri. 

The One and The Only Ivan

The One and Only Ivan berkisah tentang suka duka yang dihadapi hewan-hewan sirkus milik Mack. Setiap hewan memiliki karakter dan penampilan yang unik dalam menilai kehidupan mereka di dalam kelompok maupun para manusia yang datang untuk melihat mereka. Buku ini memberikan sudut pandang yang baru tentang kehidupan hewan-hewan yang dikurung dan perlakuan manusia terhadap mereka yang bisa menjadi renungan menarik.

Ivan adalah seekor gorilla yang mudah berkawan. Hidup di Exit & Big Top Mall and Video Arcade membuatnya terbiasa dengan tatapan manusia yang melihatnya dari pembatas-pembatas kaca tempat ia tinggal. Jarang sekali ia merindukan kehidupan di hutan belantara. Sebaliknya, ia mengisi waktu dalam ketenangan dan banyak berpikir tentang seni.

Lalu Ivan bertemu dengan Ruby, seekor bayi gajah yang dipisahkan dari keluarganya, dan ia membuat Ivan melihat tempat tinggalnya – dan kemampuan seninya – menggunakan mata yang baru. Saat Ruby datang, perubahan datang besertanya, dan Ivan-lah yang membuat perubahan itu menjadi kebaikan.


Katherine Applegate mencampur humor dan ketajaman berpikir untuk menciptakan narasi yang tidak terlupakan dengan Ivan sebagai karakter pertama  dalam kisah tentang persahabatan, seni, dan harapan. Katherine terinspirasi untuk menulis buku ini setelah membaca kisah sejati dari seekor gorilla yang juga bernama Ivan, si Gorilla Mall. Ivan yang sesungguhnya hidup di kurungan yang keicl selama 27 tahun sebelum akhirnya dipindahkan ke Kebun Binatang Atlanta. 

A Girl Who Leads

Kamu harus berdiri teguh di atas sesuatu, di tengah-tengah dunia yang menyerah terhadap segala sesuatu.

Kepemimpinan bukanlah sebuah posisi dimana kamu bisa masuk dan keluar, dan tidak ada hubungannya dengan umur. Menjadi remaja putri yang memimpin berarti berusaha dengan sadar untuk melakukan Firman Tuhan di dalam kehidupan nyata – tidak ada kompromi. Segala sesuatu yang kita lakukan di dalam dunia hanya akan memuliakan Tuhan atau mempermalukan Tuhan. Tidak ada yang netral.

Apakah kamu takut menjadi berbeda? Seberapa sering kamu ikut-ikutan orang lain sehingga mereka tidak berpikir bahwa kamu aneh atau bukan bagian dari mereka? Apa yang akan terjadi pada dirimu seandainya kamu ada di pesta besar-besaran dan kamu ditantang untuk menyambar segelas bir dan bercumbu dengan dengan pria tampan yang menghampirimu? Di bagian mana kamu merasa harus menyingkir? Bagian besar menjadi seorang Kristen yang memimpin adalah berdiri melawan sesuatu yang kamu tahu itu salah. Kamu tidak perlu ikut-ikutan arus setiap saat.

Menjadi seorang pemimpin, kamu harus menjadi berbeda. Teman-temanmu akan memperhatikanmu dan keputusan-keputusan yang kamu ambil, dan jika kamu membuat sebuah keputusan yang melawan tata social ayng ada dan berdiri atas dasar yang kamu imani, maka yang lainnya akan juga memperhatikan. Jika remaja putrid lainnya mengikuti teladanmu, maka akan terjadi revolusi yang luar biasa pada seluruh generasi kita. Hanya dibutuhkan satu orang untuk melakukan perubahan. Kamu bisa menjadi seorang pemimpin. Apakah kamu mau menjadi berbeda?

Buku ini banyak mengulas tantangan nyata yang dihadapi oleh remaja putrid dan bagaimana membuat keputusan berbeda yang manfaatnya menjadikan mereka benar-benar sebagai ‘garam dan terang dunia’, sebagaimana yang tertulis di dalam Alkitab. Dengan bahasa yang sederhana, data yang akurat, buku karangan Shannon ini akan menantang para remaja untuk menjadi pribadi yang unik, pribadi yang kritis.

Fatty Leg

Buku ini mengisahkan tentang keinginan besar seorang anak perempuan, Olemaun Pokiak, untuk memiliki kemampuan membaca dan menulis karena salah seorang sepupu perempuannya, Rosie. Olemaun hanya ingin dapat membaca sendiri buku kesukaannya , Alice in Wonderland, dan kemudian membacakannya untuk orangtua dan adik-adiknya.

Untuk mengejar keinginannya ini, Olemaun harus meninggalkan keluarga dan tanah kelahirannya dan pergi menempuh pendidikan di sekolah yang dijalankan oleh Gereja. Ia dan ayahnya menempuh perjalanan dari Artik Tinggi ke Aklavik. Gadis Inuit (Eskimo) ini bertemu dengan biarawan dan biarawati yang disebut “orang luar”.

Tidak berapa lama, Olemaun yang berubah nama menjadi Margaret, bertemu dengan seorang biarawati, si Gagak, yang berhidung betet dan berjari-jari kurus seperti cakar.  Raven langsung tidak menyukai gadis kecil yang berkemauan kuat ini. Untuk memperlihatkan ketidaksukaannya, si Gagak ini membagikan stoking abu-abu kepada semua murid kecuali Margaret, yang menerima stoking merah. Segera saja, Margaret menjadi bahan tertawaan di sekolah.


Sekarang Margaret harus menghadapi para penyiksanya. Saya suka sikap Margaret yang mampu untuk mempertahankan identitas dirinya dalam situasi yang sulit dan keinginan kuatnya untuk mendapatkan keterampilan yang lebih baik, walaupun dia seorang anak perempuan dan tinggal di daerah yang terpencil. Buku ini ditulis oleh Margaret sendiri dibantu oleh menantu perempuannya dan satu lagi illustrator yang menjadikan buku ini mudah dibaca dan dinikmati.                                                                           

Rabu, 07 Mei 2014

Malas Membaca

Beberapa hari yang lalu, saat saya ke ruang guru untuk makan siang, seorang guru bercerita tentang murid-muridnya yang tidak mengerjakan soal-soal tertentu pada pekerjaan rumah mereka karena malas membaca soal yang panjang. Sebagai solusinya, si guru memberikan sangsi berat bagi murid yang tidak mengerjakan semua soal, biarpun hanya satu yang tidak diselesaikan.

Mendengarkan kisah lucu sekaligus memprihatinkan ini, saya memberikan komentar. 

"Mungkin mereka terbiasa membaca tidak lebih dari 150 karakter seperti kolom isian celotehan di salah satu media sosial Twitter!"

Pendapat saya disetujui oleh salah seorang guru yang juga sedang mendengarkan keluhan guru pertama tadi. 

Tidak menyalahkan seratus persen para murid ini, saya juga cenderung malas membaca jika tidak dipaksakan. Terus terang saja, sejak berkembangnya media sosial, saya jadi kurang mengambil waktu untuk membaca. Saya cenderung membaca berita lewat timeline teman-teman, pop-up news di internet, melewatkan bagian yang tidak menarik, cepat mengambil kesimpulan, dan puas dengan pengetahuan sedangkal itu. 

Ponsel pintar yang berkembang pesat turut memperburuk kemalasan membaca. Saat sedang asik membaca, denting halus tanda ada pesan yang masuk ke ponsel saya mengalihkan perhatian dari buku. Segera menjawab pesan tersebut sepertinya tindakan yang tidak dapat ditahan lagi. Entahkah takut dianggap sombong jika tidak segera menjawab, ataukah hanya latah saja, saya juga tidak tahu. Berbeda saat mengirimkan SMS di ponsel-ponsel jadul harus menyedot pulsa, denting-denting halus ini seakan tidak berhenti. Kalaupun berhenti, saya yang galau. 

Kesimpulan atau komentar terhadap suatu isu penting berdasarkan informasi kurang lengkap bukan hanya dapat menggiring pada kesalahpahaman, tetapi juga berbahaya. Seperti murid yang dikisahkan di atas tadi, karena kurang informasi, tidak mau berpikir, tidak mau menjawab, tidak peduli nilai yang akan diperoleh. Ketidakpedulian, apatis, mudah terprovokasi, tidak tahu malu adalah beberapa sikap yang terjadi jika kita malas membaca, malas menelusuri fakta. 

Teknologi akan terus berkembang. Ini adalah godaan. Kitalah yang menentukan akan menjadi seperti apa bangsa kita di kemudian hari. Ayo, tekunlah membaca!




Kamis, 20 Februari 2014

Semua Membaca Buku: Indahnya Kebersamaan

Pekan buku atau sering disebut bookweek menjadi program menarik tahunan yang dinanti-nanti di tempat kerja saya. Selamat seminggu, kami akan mengadakan kegiatan membaca bersama, tiga kali sehari, selama lima belas menit sepajan jam kerja (seperti minum obat, ya?) dan kemudian menuliskan jumlah halaman yang kami baca pada reading logsheet yang telah disediakan oleh panitia. Jumlah halaman itu akan dikumpulkan per kelas dan dipajang sesuai dengan tema yang dipilihkan tahun itu. 

Hanya saja, kegembiraan ini belum dirasakan oleh bagian umum, termasuk di dalamnya para pekerja kebersihan, satpam, serta office boy. Bukan mereka tidak mau berpartisipasi dalam acara ini, tetapi kesibukan kerja, mobilitas yang tinggi dan tuntutan harus stand by kapanpun diperlukan. Tidak bisa dipungkiri, membaca itu membutuhkan waktu tenang sejenak sehingga dapat menikmati bahan bacaannya. 

Tahun ini ada yang berbeda. Para pekerja di bagian umum 'dipaksa' turut serta. Mereka 'harus' membaca buku-buku yang sudah dipilihkan (kebanyakan buku motivasi) serta menuliskan jumlah halaman yang sudah dibaca. Kebetulan, kami para pustakawan, dimasukkan ke dalam kelompok bagian umum pada pekan buku tahun ini. Dibantu oleh kepala bagian umum, saya memperoleh keseluruhan jumlah halaman yang terbaca selama seminggu oleh kelompok kami. 

Dari reading logsheet yang saya terima, ternyata jumlah halaman yang terbaca cukup menggembirakan. Memang tidak semua yang mengembalikan reading logsheet-nya, mungkin terselip entah dimana, sehingga ada beberapa yang menuliskannya pada selembar kertas, membatasi halamannya dengan selembar tisu toilet (mungkin sebaiknya lain waktu buku harus disertakan dengan penanda buku, bookmark) atau pesan melalui telepon. Ada satu reading logsheet yang membuat saya 'terharu' dari pekerja kebersihan bernama Santi. Saya lihat dia hanya punya kesempatan membaca sekali dalam satu hari, tetapi dia tetap menuliskan dan mengumpulkan reading logsheet serta menyimpan sampai pekan buku selesai. Oh, so sweet!

Memang kelompok kami paling akhir menampilkan total jumlah halaman yang telah kami baca, bahkan saat acara itu telah berakhir. Saya tetap memajang reading track yang dibuat seperti laut dengan binatang-binatang di dalamnya. Saya ingin sekali melihat reading track kami dipenuhi binatang-binatang laut. 

Dan hari itu pun tiba. Jumlah halaman yang terkumpul sudah 984 (sembilan ratus delapan puluh empat). Ini berarti kami mendapatkan 5 binatang laut (1 binatang laut mewakili 200 halaman).
 
Reading track






Semoga indahnya kebersamaan ini terulang kembali pada pekan buku di tahun-tahun mendatang.

Senin, 17 Februari 2014

Pustakawan Bukan Penjaga Buku

Artikel ini ditulis oleh Ina Liem dan dimuat di harian Kompas, Jumat, 7 Februari 2014. Saya sengaja merangkumkan artikel yang panjang dan menarik ini dengan tujuan mendorong para pustakawan di tempat saya bekerja dan secara luas agar bangga dengan profesinya dan selalu meningkatkan kemampuan mereka di bidang yang masih dianggap kurang bergengsi di Indonesia.

Siapa mau jadi pustakawan? Dari hasil polling penulis terhadap 5.614 siswa SMA di Indonesia tahun lalu, hanya ada 1 siswi yang berminat. Profesi ini masih dipandang sebelah mata. Kerjanya seolah-olah hanya menjaga buku, tenggelam di antara menjulangnya jajaran rak berisi ribuan buku. Apakah profesi ini memang "sepi pekerjaan" dan berprospek suram?

Indonesia punya lebih dari 200.000 sekolah mulai dari SD hingga SMA, dan lebih dari 3000 perguruan tinggi. Bayangkan, kalau tiap institusi memerlukan seorang pustakawan, berapa sarjana perpustakaan yang harus disediakan. Untuk perbandingan, jumlah pustakawan Indonesia saat ini hanya sekitar 3000 orang. 

Padahal, selain perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi, kita punya perpustakaan negara, perpustakaan umum, dan perpustakaan khusus. Bukan itu saja, lembaga pemerintahan dan perusahaan besar pun memerlukan keahlian mereka.

Bahkan, di perusahaan-perusahaan besar, karir pustakawan bisa mencapai posisi sebagai Chief Information Officer (CIO), yang setara dengan Chief Financial Officer (CFO) ataupun Chief Marketing Officer (CMO). Namun, tentu saja untuk bisa seperti ini diperlukan landasan akademis yang kuat. 

Tak banyak yang tahu bahwa seorang sarjana Ilmu Perpustakaan menggenggam seabrek keahlian yang bisa diaplikasikan ke banyak bidang terkaint informasi. Alasannya jelas, keahlian utama mereka adalah menghimpun, mengelola, menyebarkan, dan melestarikan informasi, lalu menyajikannya sesuai kebutuhan. 

Berhubung tugas utamanya adalah membagikan informasi, maka seorang pustakawan yang ideal bukan dari golongan kutu buku yang pendiam. Justru seorang pustakawan harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik sebab ia harus berhubungan dengan berbagai pihak dan divisi di perusahaan. Ia juga harus berorientasi pada pelayanan pelanggan dan pemasaran. Oleh sebab itu, karena bidang kerjanya makin dinamis dan media informasi makin bervariasi, sebaiknya seorang pustakawan adalah pribadi yang kreatif.

Harus diakui, untuk urusan informasi di era keterbukaan ini, Indonesia masih jauh tertinggal. Di negara lain, lulusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan menempati posisi strategis di berbagai industri. Selain perpustakaan, mereka bisa bekerja di bidang digital curation, digital preservation, digital publishing,  atau information analysis.

Begitu dahsyatnya revolusi digital sehingga arus informasi mengalir tak terbendung. Menyaring dan mencari informasi di antara jutaan data memerlukan keahlian tersendiri. Pustakawan pada era digital bukan lagi penjaga buku, melainkan lebih berperan sebagai information provider yang membantu memudahkan pengambilan keputusan secara cerdas. Pustakawan mesti berusaha lebih keras untuk menarik perhatian agar informasi berguna tetap mendapat tempat di hati masyarakat. 

Apabila kebutuhan akan keahlian ini tidak segera diisi oleh generasi muda kita, tidak mustahil setelah berlakunya AFTA (ASEAN Free Trade Area), kita akan kebanjiran tenaga ahli informasi dari mancanegara. Kita percaya bahwa "information is power". Jadi, jangan sampai "power" di negeri tercinta ini kelak jatuh ke dalam genggaman para "information manager" pendatang.

Rabu, 04 Desember 2013

Every Person Has a Story, If You Bother to READ It !

Judul di atas saya dapatkan dari sebuah iklan makanan Chick Every Life Has a Story yang ditayangkan di acara pelatihan sekolah tempat saya bekerja. Iklan ini mengena dalam hati dan pikiran saya. Selain karena tampilan gambar dan musik yang baik, saya tersentuh dengan pesan yang disampaikan di situ.

Every Life Has a Story, if we bother to read it...
Tiap Kehidupan Memiliki Sebuah Kisah, jika saja kita mau (direpotkan untuk) membacanya...

Ternyata yang memiliki kisah bukan hanya benda mati seperti buku, majalah, film, tetapi manusia yang kita temui sehari-hari memiliki kisah yang seringkali terlewatkan untuk kita baca karena kita tidak mau repot. 

Saya jadi teringat dengan seorang gadis remaja yang berperawakan serius dan saya dengar kurang disukai oleh teman-temannya karena gaya bicaranya yang tegas, tanpa tedeng aling-aling, kurang senyum dan basa basi. Gadis ini seringkali menghabiskan waktu bersama buku-buku di perpustakaan. Awalnya, saya juga segan menyapa, hanya berbicara sekadarnya saat ia mengantarkan buku-buku yang akan dipinjam.

Suatu kali, saya tidak dapat masuk ruangan karena kunci ketinggalan di dalam dan rekan saya juga sedang ada di ruangan lain. Gadis itu datang dan kami sama-sama terjebak. Saya sudah penasaran dengan gadis ini karena masa sih saya tidak mengenal pengguna setia perpustakaan yang setia ini. Kami pun hanyut dalam percakapan yang serius dan seru. Gadis ini benar-benar cerdas dan serius meniti 'karir' seni. Dan ternyata lagi, dari semua pengunjung perpustakaan, dialah yang pertama kali mengenali dan memberi komentar perubahan dekorasi yang saya buat. Benar-benar kejutan bagi saya! 

Lain lagi seorang pengguna setia perpustakaan yang sangat tertutup dalam kehidupan sosialnya. Saya juga mencoba mengenalinya lewat percakapan. Metode ini tidak kena untuk gadis ini. Dia menjawab hanya sepatah, dua patah kata. Saya perhatikan, tiap kali saya melewati kursi komputernya, dia bersikap seolah-olah sedang membuka situs yang dilarang. Saya tahu, dia tidak sedang membuka situs terlarang, hanya sebuah blog pribadi, karena bisa terlihat dari komputer pantau di sebelah komputer saya. 

Saya mendekati dia, lalu menyapa dan memberikan pujian serta dorongan untuk lebih rajin lagi menulis di blog karena kegiatan menulis membuat rasa penasaran lebih bertambah dan akan cari tahu tambahan informasi yang menjawab rasa penasaran itu dari buku atau sumber-sumber lain. Selain itu, kegiatan menulis juga membuat konsentrasi berpikir semakin baik, menganalisa suatu persoalan lebih dalam sehingga dapat membuat kesimpulan yang baik. Dia pun tersenyum bangga. Saya minta dia bertukaran alamat blog dengan saya, tetapi dia menolak. 

Tidak sulit bagi saya untuk mendapatkan blog pribadi gadis ini dengan cara lain. Dari tulisan di blog itu, saya mendapatkan kisah hidup gadis ini. Saya melihat kecerdasan yang luarbiasa dari pemilihan kata, alur tulisan, gambar latar yang dipilih, bahkan judul blog-nya biarpun terkesan apatis. Saya bisa merasakan pergumulan batin, kesedihan dan kegembiraan, sungguh menarik. Mohon maaf tidak dapat membagikan blog gadis ini karena saya mendapatkannya secara tidak resmi :D

Saya jadi bersemangat 'membaca' kehidupan orang-orang di sekitar saya. Dengan begitu, saya bisa menyampaikan cerita sesungguhnya di balik kejadian yang tidak mengenakkan sehubungan dengan hubungan antarmanusia di tempat saya bekerja.

Maukah kamu direpotkan untuk 'membaca' kisah orang-orang di sekitarmu? 

Kamis, 14 November 2013

Pergi ke Perpustakaan = Cupu?

Sepertinya sudah gak jamannya lagi anti datang ke perpustakaan. Semua orang sudah sadar bahwa membaca benar-benar menjadi salah satu pilihan rekreasi murah, meriah, bermanfaat. Bagaimana tidak? Kalau kamu ingin jalan-jalan, buka saja salah satu buku-buku perjalanan seperti the Naked Traveller, dijamin deh kamu akan turut terkagum-kagum karena penulisnya pandai bercerita tentang perjalanannya di situ. Kalau belum puas, baca deh sejarah tentang kota-kota yang pengen kamu kunjungi, bagaimana kira-kira karakter, budaya, tradisi, kebiasaan masyarakat yang hidup di situ. Masih belum puas juga, coba deh baca buku Space Travel, jalan-jalannya sudah sampai ke luar angkasa. Haha, memang membaca itu bikin kecanduan, penasaran dan akhirnya otak kita terbiasa dengan membayangkan (visualisasi), suatu proses belajar yang sangat berguna untuk hidup. 

Saya baru-baru ini juga 'tertular' kegemaran membaca buku-buku detektif karangan Agatha Christie. Saya yang membiasakan diri membaca cepat, harus mengurangi kecepatan membaca untuk membayangkan karakter di dalamnya. Kalau kamu pernah baca buku detektif, kamu juga akan mengalami apa yang saya rasakan. Saya menjadi detektifnya dan saya harus mengingat kejadian, bukti, wawancara yang sudah dikumpulkan. Mau tidak mau, saya harus 'ada' di dalam kisah itu. Berdasarkan pengalaman ini, saya jadi belajar tentang sifat manusia dan ambisi-ambisi mereka serta kemungkinan-kemungkinan perilaku yang dilakukan manusia. Menarik, ya? Iya banget! Bukankah itu semua bagian dari pelajaran sosiologi di kelas yang kadang bikin murid tidur? 

Bagi orang-orang yang suka ke perpustakaan, kamu akan tahu apa yang ingin saya sampaikan berikut ini. Perpustakaan tuh sama dengan dapur tempat menyimpan bahan-bahan masakan. Masakan apa? Yah, masakan cerita. Cerita yang baik perlu data yang akurat. Data yang akurat tidak menarik tanpa alur cerita yang teratur, masuk akal, jadi perlu membaca kisah-kisah dari buku-buku laris. Sekarang kan jamannya makanan sehat, cerita yang sehat juga membutuhkan perenungan dalam sehingga memotivasi orang lain untuk hidup benar dengan Tuhan dan sesama. 

Perpustakaan juga seperti bengkel. Kamu sudah punya rencana untuk membuat sebuah mahakarya. Kamu butuh peralatan tertentu. Kamu bisa cari buku-buku tentang eksperimen yang pernah dilakukan orang lain. Kamu bisa kumpulkan data-data yang sudah pernah mereka dapatkan, berdasarkan itu, kamu bisa buat karyamu sendiri. Seperti kata raja besar Salomo, tidak ada yang baru di bawah matahari, penemuan-penemuan baru lahir dari modifikasi-modifikasi penemuan-penemuan orang lain yang terdahulu. Contoh sederhana, peniti lahir dari jarum, yang dipilin-pilin. Menarik, bukan? Menarik banget. 

Perpustakaan juga seperti ruang bedah praktek dokter, sanggar seni peran, sekolah pengusaha, kuliner dan daftar masih bisa bertambah panjang. Kalau boleh meminjam kutipan terkenal the sky is the limit, saya juga mau bikin kutipan mirip the book is the limit. Batas daya kreasimu tergantung banyaknya buku yang kamu baca. Jadi, pergi ke perpustakaan itu bikin kamu cupu, mungkin kamu harus beli kaca baru. Kaca itu akan bilang, "tidak pergi ke perpustakaan akan bikin kamu cupu."

Author of The Month: Judy Blume


November ini Library kami memilih Judy Blume sebagai Author of The Month. Judy Blume adalah seorang penulis Amerika Serikat yang produktif menerbitkan cerita untuk anak dan remaja. Kelebihan Judy Blume adalah kepiawaiannya merangkai cerita menjadi sangat hidup dan natural. Dalam buku anak yang ditulisnya, Judy seolah bicara seperti anak-anak. Dalam buku remaja juga demikian, dia bertutur dengan cara remaja. Ketika anak-anak atau remaja membaca buku-buku Judy, mereka tidak merasa seperti digurui tapi tetap bisa mendapat sebuah pesan. Bahkan ketika kita yang dewasa membacanya, kita seolah dibawa kembali ke masa anak-anak dan remaja kita.

Ide cerita yang dipilih Judy dalam cerita-ceritanya sebenarnya tidak luar biasa. Saya lebih mengakui keunggulan Cate DiCamillo atau Roald Dahl untuk hal ini. Tapi Judy Blume punya kekuatan bercerita yang luar biasa. Dari peristiwa biasa sehari-hari yang dialami seorang anak ditengah keluarga, Judy mampu membuatnya menjadi sangat menarik. Saya rasa itu karena Judy memandang hidup dengan cara yang indah dan unik.

Judul pertama dari buku Judy yang saya baca adalah "Tales of Fourth Grade Nothing". Buku ini bercerita tentang kehidupan yang dijalani Peter Hatchet yang memiliki seorang adik yang luar biasa unik, Fudge. Membaca ceritanya saya seolah bisa merasakan apa yang dialami Peter. Selain itu Judy juga berhasil menangkap momen-momen dalam sebuah keluarga yang dikemas dalam cerita yang sedemikan menarik sehingga pembaca seperti masuk benar dalam keluarga yang diceritakan. Judy juga piawai menonjolkan karakter baik melalui dialog maupun kejadian-kejadian dalam cerita.

Buku terakhir Judy yang saya baca-sampai saat ini ya-berjudul "Starring Sally J.Freedman as Herself". Buku ini seperti memoir Judy. Di buku ini Judy menceritakan tentang Sally yang merupakan proyeksi dari masa kecilnya. Beberapa peristiwa dalam cerita juga adalah kejadian yang dialami Judy dalam hidupnya. Dari cerita di buku ini saya jadi tahu bagaimana Judy bisa menjadi penulis yang ulung. Seperti Sally, sejak kecil memang Judy senang membuat cerita dalam kepalanya. Peristiwa yang terjadi dalam kesehariannya bisa menjadi sebuah cerita baru dikepalanya. Tentu dengan tokoh dan setting serta tema tambahan.

Dan...untuk melengkapi kegiatan Author of The Month bulan ini, Library juga mengadakan Quiz Author of the Month. Terlihat keseruan anak-anak mengikuti kuisnya. Semoga anak-anak terinspirasi dan akan menjadi penulis suatu hari nanti. Dan ketika itu terjadi, semoga saya masih menjadi librarian dan masih bisa membuat Quiz tentang mereka.


(witty2013)

Selasa, 12 November 2013

Perpustakaan dan Teknologi

Beberapa waktu lalu, saya dan rekan diundang menjadi pembicara dalam acara Professional Development bagi para pengajar di sekolah kami. Kami diminta untuk membagikan hasil pelatihan perpustakaan yang pernah kami ikuti. Kami memilihkan tema Perpustakaan dan Teknologi, sesuai dengan kondisi user perpustakaan yang sebagian besar pengguna teknologi canggih. 

Pembahasan tersebut dimulai dengan pembacaan hasil survei kecil-kecilan yang sudah dikerjakan minggu lalu mengenai kepuasan user terhadap perpustakaan. Ada 10 penentu yang kami gunakan untuk menilai layanan perpustakaan:
  1. Access: apakah cepat temu kembali materi perpustakaan?
  2. Communication: lancarkah komunikasi antara para pustakawan dan user dalam memperoleh informasi?
  3. Competence: apakah para pustakawan memiliki cukup pengetahuan dan keterampilan untuk menyediakan informasi? 
  4. Courtesy: apakah para pustakawan melayani dengan ramah?
  5. Credibility: apakah informasi dari para pustakawan bisa dipercaya, janji penyediaan informasi selalu ditepati?
  6. Reliability: apakah informasi yang tersedia akurat, dapat diandalkan?
  7. Responsiveness: apakah para pustakawan sigap dalam menyediakan informasi?
  8. Security: apakah keamanan terjaga di dalam perpustakaan? 
  9. Understanding the customer: apakah para pustakawan peduli dengan kebutuhan user?
  10. Tangibles: apakah layanan fisik seperti fasilitas, peralatan dan sumber-sumber lain sudah memadai?
Tingkat kepuasan diukur dari skala 1 (sangat tidak puas) hingga 5 (sangat puas) dengan angka 3 (netral). Jika user memberi nilai 3 atau kurang, kami meminta mereka untuk memberikan saran agar bisa diadakan perbaikan. 

Pembahasan tentang teknologi semakin seru saat kami membahas tentang teknologi apa saja yang sudah kami miliki dan perlu untuk dimiliki. Bagi peserta yang muda, mereka sangat antusias dengan materi ini sementara peserta yang lebih senior menyampaikan keluhan dengan penggunaan teknologi. Kami menekankan di sini bahwa yang terpenting bukanlah teknologinya melainkan pengajarannya. Teknologi hanya salah satu kendaraan bagi kegiatan belajar mengajar yang lebih efektif. 

Teknologi menjadi kendaraan yang baik karena siswa di sini sudah terbiasa bergaul dengan teknologi. Jika pengajaran di kelas disampaikan dengan cara-cara yang lama, kebosanan menjadi penghalang besar bagi siswa. Reformasi di segala bidang membuat siswa sekarang perlu 'diyakinkan' bahwa pelajaran yang mereka dapatkan di ruang kelas relevan dengan kondisi sosial di sekitar mereka. Teknologi dapat menghadirkan kondisi sosial ke dalam kelas dalam bentuk audio visual.

Tidak dipungkiri, pikiran siswa dipenuhi dengan hiburan yang mudah diperoleh lewat internet. Bukan hanya siswa, orang dewasa pun seringkali menganggap internet sebagai sarana hiburan. Di sinilah tugas guru yang tentunya lebih dahulu melek teknologi untuk mengarahkan siswa menggunakan internet untuk keperluan riset dan pembelajaran. Guru perlu menyediakan situs-situs tertentu yang perlu dikunjungi siswa untuk mendapatkan informasi yang sudah melewati uji sebagai berikut: 
  1. Authority: apakah situs tersebut berasal dari institusi atau lembaga yang bisa dipercaya?
  2. Accuracy: seberapa tepat informasi yang ada dalam situs tersebut?
  3. Coverage: apakah situs itu menjangkau sebagian besar bahan penelitian?
  4. Relevance: apakah situs tersebut memuat tulisan yang ada hubungannya dengan bahan penelitian?
  5. Currency: apakah situs tersebut menampilkan tulisan yang selalu bertambah?
Teknologi seharusnya memudahkan pekerjaan manusia. Demikian juga teknologi di dalam perpustakaan, jika digunakan dengan benar, tentunya akan meringankan beban kerja guru di dalam kelas. Perpustakaan dan teknologi serta para pustakawan dan guru yang bekerja sama baik akan menciptakan sekolah yang lebih dinamis dalam hal pengajaran. Seperti dua mata pisau, teknologi yang tidak digunakan dengan benar akan menimbulkan dampak merusak. 

Senin, 25 Februari 2013

Perpustakaan yang Baik

Mengintip dari blog tetangga, sebuah perpustakaan yang baik setidaknya memiliki elemen-elemen tersebut di bawah ini (silakan ditambahkan di kolom komentar, jika ada):

1. Memiliki pintu masuk dengan dekorasi yang menarik pengunjung dan memberikan pelayanan yang sopan, ramah dimulai dari saat Anda memasuki ruangan perpustakaan.





2. Menyediakan petunjuk, denah, tanda panah dan/atau arahan lainnya ke tempat atau layanan yang Anda berikan.


















3. Memiliki lingkungan yang bersih, segar (tanpa bau mengganggu), aman dengan pengaturan tempat baca yang nyaman.



4. Menyediakan berbagai bahan baca (populer, penelitian, referensi), menawarkan buku-buku terkini dan rekomendasi yang dipampang dengan menarik dan mudah dijangkau serta berbagai bahan pustaka lainnya yang tepat guna.

5. Memiliki akses (baik dari ruang perpustakaan maupun dari komputer pribadi di rumah) ke sistem peminjaman perpustakaan yang mudah digunakan.

6. Menawarkan sumber-sumber untuk penelitian dan bantuan - seperti staf perpustakaan yang cukup terlatih dan buku-buku petunjuk, database yang mudah digunakan, perlengkapan menggandakan dokumen  dan peralatan lainnya.


7. Menyediakan lingkungan yang tenang untuk membaca dan juga satu ruang untuk berdiskusi ketika melakukan konsultasi kerja bersama.
8. Menyediakan sarana untuk mengemukakan saran perbaikan atau mengeluhkan layanan yang kurang baik.

9. Memiliki jam buka yang memadai dan diketahui banyak orang.
10. Merupakan bagian integral dari komunitas perpustakaan itu berdiri, misalnya : menyediakan ruang belajar, ruang rapat, aktivitas-aktivitas untuk mendukung pembelajaran seumur hidup.


Sumber : http://www.goodlibraryguide.com/Manifesto.asp

Pekan Buku (Book Week)


Pekan buku merupakan hari peringatan internasional yang dilaksanakan di tiap negara untuk merayakan buku dan para penulis. Menurut scholastic.com, pekan buku anak biasanya diselenggarakan seminggu sebelum perayaan Thanksgiving. Sedangkan menurut readwritethink.com, ada juga yang melaksanakan pekan buku ini setiap Mei (khususnya minggu ke-2 di bulan itu). Sumber lainnya mengatakan bahwa pekan buku dilaksanakan tiap musim panas, biarpun saat itu kebanyakan pelajar tidak bersekolah.

Di sekolah kami, pekan buku biasanya dilaksanakan pada setiap Februari setiap tahun. Para guru dan tim perpustakaan akan memutuskan sebuah buku yang akan dipakai untuk dibedah. Tahun ini, kami memilih buku biografi MARCOPOLO disertai semboyan COURAGE (Come Onto Unlimited Reading and Go Exploring). Dengan semboyan ini diharapkan selama pekan buku dan tentunya sampai seterusnya, kami lebih menikmati kegiatan membaca dan mengambil banyak manfaat di dalamnya.

Kegiatan-kegiatan pendukung yang kami lakukan:
 1.       Read-Aloud
Tiap-tiap guru akan membacakan buku biografi yang sudah ditentukan kepada murid selama 15 menit. Para murid berusaha menggambarkan kisah buku itu di benak mereka dan mencatat data-data penting di dalam buku itu.
  2.       COURAGE Time
Saat mendengar tanda bunyi, semua anggota komunitas sekolah kami menghentikan pekerjaan mereka selama 15 menit untuk membaca buku yang sudah mereka pilih dan pinjam dari perpustakaan sekolah. Setelah membaca selama 15 menit, mereka harus mengisi SSR Reading Log yang berisi halaman berapa saja yang sudah habis dibaca.
  3.       Permainan dan perlombaan
Tahun ini kami mengadakan perlombaan beregu membuat mosaic sesuai tema buku dan permainan kuis First Rank.
  4.       Reading Buddy
Para siswa kelas besar mendatangi siswa kelas kecil dan mereka dipasang-pasangkan, setelah itu siswa kelas lebih besar akan membacakan buku tipis (habis terbaca hanya 15 menit) kepada siswa kelas kecil.  
  5.       Presentasi Negara Kunjungan Marcopolo
Para siswa menampilkan informasi negara-negara yang dikunjungi oleh Marcopolo selama pelayarannya dalam bentuk presentasi keunikan negara-negara tersebut, seperti alat musik, makanan khas, alunan musik daerah, pakaian setempat, dll.
  6.       Berdagang di Jalur Sutera (acara puncak)
Para siswa yang ditugaskan untuk menjaga stand negara yang sudah dipilihkan berdiri menyambut kedatangan para siswa lainnya melalui jalur tertentu, jalur sutera. Para siswa yang berkunjung sudah menyiapkan materi yang akan ‘diperdagangkan’, yaitu buku, dan menukarnya dengan makanan atau souvenir khas negara yang dikunjungi.
 7.       Book Fair
Pada jam yang sudah ditentukan, setiap kelas didampingi guru berkunjung ke stand buku yang sudah menyediakan buku-buku pilihan yang sesuai dengan kelas para siswa.

Kegiatan-kegiatan ini hanya beberapa saja yang rutin dilakukan, seperti read-aloud dan book fair. Selebihnya, kami berkreasi dengan ide-ide yang baru dan lebih menarik. Dari kegiatan ini, para siswa, guru dan staf diingatkan kembali untuk mengambil waktu untuk membaca di tengah-tengah kesibukan mereka. Lagipula, membaca juga dapat menjadi pelepas lelah yang bermanfaat.







Rabu, 20 Februari 2013

Buku dan Pernikahan

Seorang teman baik baru saja menikah akhir pekan kemarin. Suasana bahagia menyelimuti acara itu. Meski tamu yang datang tidak terlalu banyak tetapi kemeriahan tetap bisa dirasa. Kemeriahan dalam kesederhanaan.

Pernikahan buat saya seperti membaca sebuah buku baru. Sebuah buku dengan genre yang kita tidak tahu. Sebuah buku yang bahkan sinopsisnya tidak bisa kita baca.

Setiap peristiwa yang dilalui bersama pasangan adalah halaman baru yang menakjubkan. Setiap konflik yang bisa terjadi setiap waktu adalah bab baru yang menegangkan. Di setiap kenangan akan tahun yang telah lalu adalah jejak alur.

Pernah seorang teman bertanya 'bagaimana rasanya menikah?'. Jawaban yang ingin disampaikan tentunya  'seperti membaca sebuah buku best seller yang ditulis oleh pengarang hebat dengan akhir cerita yang bahagia.'

Jika Anda bertanya, 'benar buku best seller?' 'benar dikarang oleh si hebat?' 'benar happy ending?'..tentu saja benar karena seperti kita melihat bahwa semua buku itu adalah sesuatu yang baik, maka pernikahan harus pula dilihat sebagai sesuatu yang baik.

Dan jika Anda masih bertanya, 'Tapi tidak semua buku itu bagus..dan tidak semua penulis best seller sekalipun menghasilkan karya yang semua bagus..dan tidak semua mengharapkan ending yang happy?'..hmm, jika memang Anda tidak suka membaca dan tidak tertarik untuk membaca maka tidak usah membaca. 

Tetapi jika Anda ingin untuk membaca atau anda menyebut diri suka membaca, bacalah saja buku yang satu itu dan temukan apa maksud pengarang menulisnya. Jika Anda tak juga bahagia, berbahagialah untuk sang pengarang. Berbahagialah untuk apa yang ada dalam buku itu. Mungkin ini saatnya Anda tidak menikmati diri Anda dalam membaca, tapi menikmati bacaan Anda semurni mungkin...

Rabu, 10 Oktober 2012

Pustakawan Sukses

Kebahagiaan seorang pustakawan adalah ketika melihat antrian pengunjung perpustakaan yang hendak meminjam buku atau saat beberapa pengunjung menceritakan dengan antusias buku yang telah mereka baca namun kesedihan seorang pustakawan adalah ketika melihat koleksi buku yang berdebu karena jarang sekali  terpinjam. 

Sejak saya menjadi seorang pustakawan profesional di sebuah sekolah, saya seringkali memikirkan apakah indikator seorang pustakawan berhasil di dalam pekerjaannya. "Bisa mengelompokkan buku secara tepat sesuai dengan DDC? Tidak ada koleksi perpustakaan yang rusak atau hilang? Dekorasi menarik yang selalu membuat perpustakaan terlihat segar? Teknologi informasi terkini yang harus dimiliki? Peraturan perpustakaan yang ketat diterapkan?" Pertanyaan yang sederhana tetapi saya terus bercokol di dalam pikiran saya. 

Pertanyaan di atas menjadi semacam pertanyaan motivasi bagi diri saya sendiri. Saya memerlukan jawabannya karena saya tahu jawabannya akan menjadi semacam pendorong semangat bekerja di perpustakaan. Apalagi profesi sebagai pustakawan di Indonesia ini masih menjadi profesi yang kurang diminati, seperti yang pernah dilansir di salah satu artikel majalah Femina. Saya sendiri mencintai pekerjaan saya sebagai seorang pustakawan dan saya ingin membagi kecintaan saya ini dengan teman-teman pustakawan lain yang mungkin 'terpaksa' menjadi pustakawan karena berbagai alasan. 

Selama 6 tahun bekerja, saya memperhatikan beberapa hal yang membuat saya bahagia dan sedih sebagai seorang pustakawan. Kebahagiaan dan kesedihan ini berhubungan dengan sedikit banyaknya koleksi perpustakaan yang terpinjam dan dikembalikan dalam keadaan baik. Bergerak dari sini, sejumlah ide mengenai promosi buku dan kegiatan perpustakaan pun muncul, di antaranya : memberikan penghargaan bagi peminjam buku terbanyak, memasang resensi buku baru atau rekomendasi, memasang poster ajakan untuk membaca, membuat newsletter yang dikirimkan melalui e-mail kepada para pendidik. 

Jika kita sebagai pustakawan menjaga motivasi kita dengan cara menggali terus ide-ide cemerlang untuk mempromosikan buku, maka saya yakin kita dapat melihat perkembangan minat baca para pengguna secara signifikan. Dan pada akhirnya, kita sendiri bangga karena berpartisipasi dalam upaya meningkatkan minat baca di lingkungan kita sendiri. 










Rabu, 19 September 2012

Quiz Author of the Month 3


ROALD DAHL QUIZ

1.  Where was Roald Dahl born?
2.  Name one of Roald Dahl’s schools!
3.  Who is the illustrator of most Dahl’s books?
    4.   What did Roald Dahl do on the Second World War?
    5.  Name one language Roald Dahl spoke-beside English!
    6.  Which book tells tales of Roald Dahl’s childhood?
    7.    Who runs the chocolate factory?
    8.    Name one of the nasty children who visit the chocolate factory w with Charlie!
    9.    What was the name of the boy who was the
Champion of the World? 
   10.Who is Matilda’s headmistress?
   11.What do the Giraffe, the Pelly and the Monkey do?
   12.What animal features in Esio Trot?
   13.What story is about a ‘Fantastic’ animal?
   14.What does the Enormous Crocodile like to eat?
   15.Which bird appears in both ‘The Twits’ and ‘The Enormous Crocodile’?
   16.What does BFG stand for?
   17.Who did George make his marvelous medicine for?
   18.With who does James live after his parents were eaten by rhinoceros?
   19. Mr.Fox enemies-Boggis,Bunce and Bean-do what job?
   20. What does Mrs.Twits put in Mr.Twit’s spaghetti?